DeskripsiKolera adalah diare akibat infeksi bakteri yang bernama Vibrio cholerae. Penyakit ini dapat terjadi pada orang dewasa maupun anak-anak dan diare yang ditimbulkan dapat parah hingga menimbulkan dehidrasi. Kolera merupakan penyakit yang menular melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri. Kondisi ini biasanya mewabah di daerah yang padat penduduk dan memiliki lingkungan Penyakitini disebabkan karena bakteri Salmonella typhi. Tanda tipus adalah adanya demam tinggi, sakit perut, sakit kepala, muntah dan diare yang diikuti konstipasi, juga munculnya ruam. 5. Kolera. Kolera disebabkan Vibrio cloreae. Gejalanya berupa diare cair yang keluar sangat banyak sehingga biasanya berujung dehidrasi, sakit perut, juga Gejalanyatermasuk diare, perut keram, mual, muntah, dan dehidrasi. Ciri utama penyakit kolera adalah buang air besar encer berwarna putih seperti air tajin (cucian beras) dengan bau yang amis. Kematian biasanya disebabkan oleh dehidrasi. Kalau terlambat diobati, maka risiko kematian sangat tinggi pada penderita. 4 KOLERA Gejala: Perut Anda seperti ditekan, merasa nyeri terutama di perut bagian bawah, lalu diikuti kejang otot perut. Perasaan mual dan muntah-muntah biasanya datang setelah mencret. Kolera sering juga disebut dengan penyakit muntaber karena gejala utamanya adalah muntah dan BAB. Penyebab: Kuman Vibrio cholerae yang punya nama alias lain Gejalaketika terkena kolera adalah mual dan muntah. Selain itu, pengidap mengalami diare yang berkepanjangan. Diare yang terjadi dalam waktu yang cukup panjang mengakibatkan hilangnya kadar sodium, klorida, dan potasium dalam tubuh. Hal ini membuat pengidap kolera mengalami kram perut yang cukup serius. Mengutipjurnal Menekan Laju Penyebaran Kolera di Asia karya Putu Bagus Anggaraditya, penyakit kolera disebabkan oleh bakteri bernama Vibrio cholerae. Bakteri ini pertama kali ditemukan oleh bakteriologi Robert Koch (Jerman, 1843-1910). Ia menyebutkan bahwa ciri-ciri Vibrio cholerae antara lain: Merupakan bakteri gram negatif . Kolera adalah diare yang disebabkan oleh infeksi bakteri Vibrio cholerae. Penyakit ini dapat terjadi pada orang dewasa atau anak-anak. Diare yang timbul akibat kolera dapat parah dan sampai menyebabkan dehidrasi. Kolera merupakan penyakit yang menular melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri. Kondisi ini biasanya mewabah di wilayah yang kotor dan padat penduduk. Kolera ditandai dengan diare, di mana tinja yang keluar cair dan berwarna pucat seperti air cucian beras. Orang yang menderita diare parah akibat kolera perlu segera mendapat penanganan, agar tidak mengalami dehidrasi yang mengancam nyawa. Penyebab Kolera Kolera disebabkan oleh infeksi bakteri Vibrio cholerae. Bakteri kolera hidup di alam bebas, terutama di lingkungan perairan seperti sungai, danau, atau sumur. Sumber penyebaran utama bakteri kolera adalah air dan makanan yang terkontaminasi bakteri kolera. Bakteri penyebab kolera bisa masuk bersama makanan jika makanan tersebut tidak dibersihkan dan dimasak dengan baik sebelum dimakan. Beberapa jenis makanan yang dapat menjadi sarana penyebaran bakteri kolera adalah Makanan laut seperti kerang dan ikan Sayuran dan buah-buahan Biji-bijian, seperti beras dan gandum Meskipun di dalam makanan atau minuman yang dikonsumsi sehari-hari terdapat bakteri kolera, orang yang mengonsumsi makanan tersebut tidak berarti langsung terkena penyakit kolera. Dibutuhkan bakteri kolera dalam jumlah yang banyak di dalam makanan atau minuman untuk membuat seseorang terkena penyakit kolera. Ketika infeksi bakteri kolera terjadi, bakteri akan berkembang biak di dalam usus kecil. Perkembangbiakan bakteri ini akan mengganggu penyerapan air dan mineral dalam sistem pencernaan. Akibatnya, akan terjadi diare yang menjadi tanda utama penyakit kolera. Selain beberapa sumber infeksi kolera seperti yang disebutkan di atas, ada juga beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko terjangkit bakteri kolera, yaitu Bertempat tinggal di lingkungan yang tidak bersih Hidup serumah dengan penderita kolera Bergolongan darah O. Perlu diingat, meski tinggal serumah dengan penderita kolera dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terserang kolera, penyakit ini tidak menular dari orang ke orang secara langsung. Hal ini karena bakteri kolera tidak dapat masuk ke dalam saluran pencernaan kecuali bersama makanan atau air. Gejala Kolera Gejala utama penyakit kolera adalah diare. Diare akibat kolera dapat dikenali dari tinja yang cair dan berwarna putih pucat seperti susu atau air cucian beras. Beberapa penderita kolera bisa mengalami diare parah berkali-kali hingga cairan tubuhnya hilang dengan cepat dehidrasi. Selain diare, gejala lain yang dapat dialami penderita kolera adalah Mual Muntah Kram perut Gejala kolera pada anak-anak sering kali lebih berat dibandingkan pada orang dewasa. Anak-anak yang terserang kolera juga lebih rentan terkena hipoglikemia gula darah rendah, yang bisa menyebabkan kejang dan penurunan kesadaran. Kapan harus ke dokter Kolera dapat menyebabkan seseorang mengalami dehidrasi. Segera ke dokter jika mengalami gejala dehidrasi, untuk mendapatkan penanganan lanjutan yang tepat. Gejala-gejala dehidrasi akibat kolera yang harus diperhatikan antara lain Mulut kering Merasa sangat haus Tubuh terasa lesu Mudah marah Jantung berdebar Mata tampak cekung Kulit berkerut dan kering Hanya sedikit atau bahkan tidak keluar urine Anak-anak yang menderita kolera lebih mudah mengalami dehidrasi dibanding orang dewasa. Oleh karena itu, segera temui dokter jika anak Anda mengalami keluhan berikut ini Diare yang tidak kunjung sembuh setelah 24 jam Demam tinggi diatas 39 oC Popok bayi tidak basah 3-4 jam setelah diganti Tinja berwarna hitam atau mengandung darah Terlihat lemas dan mengantuk Mulut atau lidah kering Pipi, perut, dan mata terlihat cekung Diagnosis Kolera Sebagai langkah awal, dokter akan mengajukan pertanyaan terkait gejala yang dialami dan penyakit yang pernah diderita pasien. Dokter juga akan menanyakan kesehatan anggota keluarga dan kondisi lingkungan tempat pasien tinggal, serta makanan dan minuman yang dikonsumsi. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan mengambil sampel tinja untuk diteliti di laboratorium. Tujuannya adalah untuk menemukan bakteri kolera dalam sampel tinja. Pengobatan Kolera Penanganan utama untuk penderita kolera adalah dengan mencegah dehidrasi. Dokter akan memberikan larutan oralit untuk mengganti cairan dan ion mineral di dalam tubuh. Bila pasien terus muntah sehingga tidak bisa minum, dokter akan menyarankan rawat inap dan memberikan cairan infus. Selain menjaga kadar cairan tubuh, dokter akan memberikan obat-obat lain untuk mengatasi kolera, yaitu Obat antibiotik Untuk mengurangi jumlah bakteri sekaligus mempercepat penyembuhan diare, dokter akan memberikan antibiotik, seperti tetracycline, doxycycline, ciprofloxacin, erythromycin, atau a Suplemen zinc Zinc seng juga sering diberikan untuk mempercepat penyembuhan diare pada anak-anak. Komplikasi Kolera Kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar akibat kolera bisa berakibat fatal. Dehidrasi berat hingga syok merupakan komplikasi kolera yang paling berbahaya. Komplikasi lain yang bisa muncul akibat kolera adalah Gagal ginjal Hipokalemia atau kekurangan kalium Hipoglikemia atau rendahnya kadar gula darah. Pencegahan Kolera Risiko terjangkit kolera dapat diminimalkan dengan menjaga kebersihan diri, misalnya dengan rajin mencuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun, terutama sebelum makan dan setelah dari toilet. Selain kebersihan diri, kebersihan makanan dan minuman yang dikonsumsi juga perlu diperhatikan. Caranya adalah dengan Tidak membeli makanan yang tidak terjamin kebersihannya Tidak mengonsumsi makanan mentah atau setengah matang Hanya menggunakan air untuk memasak yang sudah terjamin kualitasnya Tidak mengonsumsi susu segar yang belum diolah Minum air mineral botol atau air yang telah dimasak hingga mendidih Mencuci bersih sayur dan buah sebelum dimakan Agar lebih terlindungi dari kolera, Anda bisa menjalani vaksinasi kolera, terutama apabila Anda tinggal di daerah yang banyak kasus kolera. Vaksin kolera diminum 2 kali dengan jarak waktu 7 hari sampai 6 minggu, untuk memberikan perlindungan selama 2 tahun. Hello doktor. Saya merupakan seorang bapa kepada anak yang berumur 13 tahun yang mempunyai masalah berkaitan cirit-birit sejak 3 hari yang lepas. Anak saya bersekolah di salah sebuah sekolah menengah di anak saya, cirit-birit itu berlaku selepas dia membeli makanan daripada kantin sekolah. Selain daripada anak saya, terdapat juga beberapa pelajar yang lain yang turut mengalami masalah yang sama. Anak saya memberitahu bahawa najisnya sangat cair dan berwarna seperti coklat keputihan tetapi tiada sebarang darah yang kelihatan. Setiap hari, dia akan pergi ke tandas sebanyak 8 kali disebabkan oleh cirit-birit yang dialaminya. Saya juga ada membeli ubat tahan cirit-birit di farmasi, tetapi ia kurang membantu. Selain itu, dia turut mengalami muntah-muntah yang kadang-kadang berlaku dan menurutnya muntah itu mengandungi makanan yang dimakan, lebih kurang dalam 1 cawan tetapi tiada sebarang darah yang kelihatan. Disebabkan dia sudah mula kelihatan lemah sepanjang hari dan tidak mampu ke sekolah, saya mengambil keputusan untuk membawanya berjumpa dengan saya ingin bertanya kepada doktor, apakah yang dimaksudkan dengan penyakit kolera dan apakah penyebabnya?Adakah ia berkaitan dengan jangkitan bakteria dan apakah ubat-ubatan yang sesuai untuk merawatnya?Terima kasih atas soalan anda. Penyakit kolera adalah penyakit berjangkit wabak akut acute. Ia akan menyebabkan gejala seperti cirit-birit berair, kehilangan cecair dan elektrolit yang berlebihan, dan dehidrasi yang teruk. Ia boleh membawa maut. Ia berlaku disebabkan oleh jangkitan bakteria Vibrio cholera V. cholera.Oleh kerana dehidrasi yang teruk, kadar kematian adalah tinggi apabila tidak dirawat, terutamanya dalam kalangan kanak-kanak dan bayi. Kematian boleh berlaku dalam kalangan orang dewasa yang sihat dalam beberapa jam. Mereka yang pulih biasanya mempunyai imuniti jangka masa panjang terhadap jangkitan semula daripada penyakit anda ingin bercuti ke kawasan seperti Asia, Afrika dan beberapa bahagian Amerika Latin, anda perlu melindungi diri daripada kolera dengan menjalankan vaksinasi yang sesuai terlebih dahulu, hanya minum air yang dimasak atau dari botol tertutup dan mengikuti amalan cuci tangan dengan adalah penyakit berjangkit yang menyebabkan cirit-birit berair yang teruk, yang boleh menyebabkan dehidrasi dan juga kematian jika tidak diawat. Ia berlaku disebabkan oleh makan makanan atau minuman yang sudah tercemar dengan bakteria yang dipanggil Vibrio lazimnya berlaku di Amerika Syarikat pada tahun 1800-an, sebelum sistem rawatan air dan kumbahan yang moden menghapuskan penyebaran bakteria tersebut melalui air yang tercemar. Hanya kira-kira 10 kes kolera yang dilaporkan setiap tahun di dan separuh daripadanya diperoleh daripaada luar negara. Jarang, makanan laut yang tercemar menyebabkan wabak kolera di bagaimanapun, wabak kolera masih menjadi masalah serius di negara lain di seluruh dunia. Sekurang-kurangnya 150,000 kes dilaporkan kepada Pertubuhan Kesihatan Sedunia setiap tahun. Penyakit ini biasanya berlaku di tempat-tempat yang mempunyai sanitasi yang kurang baik, penuh dengan orang ramai, peperangan, dan yang biasanya berlaku penyakit kolera termasuklah bahagian-bahagian Afrika, Asia Selatan, dan Amerika Latin. Sekiranya anda bercuti ke salah satu kawasan tersebut, mengetahui fakta kolera boleh membantu melindungi anda dan keluarga cholerae, bakteria yang menjadi penyebab bagi penyakit kolera, biasanya boleh ditemui dalam makanan atau air yang tercemar oleh najis daripada orang yang dijangkiti. Sumber-sumber bakteria ini termasuklahBekalan air daripada loji kumbahan dan rawatanAis diperbuat daripada air daripada loji kumbahan dan rawatanMakanan dan minuman yang dijual oleh penjaja jalananSayur-sayuran yang disiram dengan air yang mengandungi sisa manusia seperti air kencing atau najisIkan mentah atau kurang masak dan makanan laut yang ditangkap di perairan yang telah tercemar dengan kumbahanApabila seseorang mengambil makanan atau air yang sudah tercemar, bakteria akan membebaskan toksin di dalam usus yang akan menyebabkan cirit-birit yang tidak mungkin anda mendapat kolera hanya dengan hubungan sentuh dengan orang yang sekitar 1 daripada 20 jangkitan kolera adalah teruk, dan kebanyakan orang yang dijangkiti tidak menunjukkan sebarang gejala muncul, ia akan berlanjutan antara 12 jam dan 5 hari selepas terdedah kepada bakteria tersebut. Gejala-gejala tersebut boleh jadi ringan, tiada simptom atau sangat yang ada termasuklahSejumlah besar cirit-birit berair, kadang-kadang dipanggil "najis air beras"/”rice water stools” kerana ia kelihatan seperti air yang telah digunakan untuk membasuh berasMuntahKaki kejangSeseorang yang mengalami penyakit kolera akan kehilangan air dalam badan dengan cepat, sehingga 20 liter sehari, jadi dehidrasi dan kejutan yang teruk boleh dehidrasi termasuklahKulit longgar / “loose skin”Mata nampak seperti tenggelamMulut dan bibir keringPenurunan rembesan, misalnya, kurang berpeluhLaju denyutan jantungTekanan darah rendahPening kepala atau kepala terasa ringanKehilangan berat badan yang cepatKejutan/Shock boleh menyebabkan sistem peredaran darah tidak berfungsi dengan baik. Ia adalah keadaan yang mengancam nyawa dan keadaan terdapat vaksin bagi penyakit kolera, CDC dan Pertubuhan Kesihatan Sedunia biasanya tidak mengesyorkannya, kerana ia mungkin tidak melindungi separuh daripada orang yang menerimanya dan hanya bertahan selama beberapa bagaimanapun, anda boleh melindungi diri anda dan keluarga dengan menggunakan hanya air yang telah dimasak, air yang telah dibasmi kuman secara kimia, atau air botol. Pastikan anda menggunakan air yang telah dibotolkan, dimasak, atau dibasmi kuman secara kimia untuk tujuan berikutMinumMenyediakan makanan atau minumanMembuat aisMemberus gigiMembasuh muka dan tanganMembasuh pinggan mangkuk dan perkakas yang anda gunakan untuk makan atau menyediakan makananMembasuh buah-buahan dan sayur-sayuranUntuk membasmi kuman air anda sendiri, didihkan selama 1-3 minit atau tapiskan air tersebut dan gunakan “commercial chemical disinfectant”.Anda juga harus mengelakkan makanan mentah, termasuklah yang berikutBuah-buahan dan sayur-sayuran yang tidak dikupasProduk tenusu dan susu yang tidak dipasteurisasiDaging atau makanan laut yang mentah atau kurang masakIkan yang ditangkap di kawasan terumbu tropika, yang mungkin tercemarSekiranya anda mengalami cirit-birit dan muntah yang teruk, terutamanya selepas makan makanan laut yang mentah atau bercuti ke negara di mana kolera adalah epidemik - dapatkan rawatan perubatan dengan segera. Penyakit kolera boleh dirawat, tetapi kerana dehidrasi boleh berlaku dengan cepat,jadi adalah penting untuk mendapatkan rawatan kolera dengan adalah rawatan utama untuk penyakit kolera. Bergantung kepada keadaan cirit-birit, rawatan akan terdiri daripada oral atau intravena untuk menggantikan cecair yang seperti antibiotik, yang membunuh bakteria, bukan sebahagian daripada rawatan kecemasan untuk kes yang ringan. Tetapi mereka boleh mengurangkan tempoh cirit-birit dan juga mengurangkan perkumuhan bakteria, dengan itu membantu mencegah penyebaran terdapat apa-apa kemusykilan, sila rujuk nasihat doktor yang boleh dijumpai di klinik atau hospital. Jika ia bukan kecemasan, anda juga boleh mendapatkan nasihat daripada doktor di laman web Cholera - Vibrio cholerae infection, Centre for Disease Control and Prevention Gejala penyerta Selain penyebab, faktor lain yang bisa menjadi pembeda antara sakit perut karena gas dengan masalah kesehatan lainnya adalah gejala. Bila gas yang berlebih tidak dikeluarkan dari usus, Anda akan sakit perut yang disertai dengan kondisi lainnya, antara lain buang gas terus-menerus, baik secara sadar maupun tidak, rasa sakit yang tajam atau kram pada bagian perut, nyeri pada perut berpindah-pindah dan hilang timbul dengan cepat, rasa melilit pada perut, hingga perut kembung dan terasa kencang. Lokasi rasa sakit Orang yang sakit perut akibat gas umumnya akan merasakan nyeri pada separuh perut Anda. Artinya, lokasi rasa sakit karena gas tidak terlalu spesifik, sehingga Anda mungkin bisa merasakannya pada daerah perut yang lebih luas. Sementara itu, sakit perut karena penyakit usus buntu atau kantong empedu biasanya berada di area yang spesifik, seperti perut di bagian bawah sebelah kanan. Tingkat rasa sakit Untungnya, tingkat rasa sakit akibat penumpukan gas dan perut kembung biasanya tidak terlalu mengganggu. Meski begitu, Anda perlu berhati-hati ketika rasa sakit ini berlangsung lebih dari 24 jam atau disertai dengan demam. Di lain sisi, sakit perut akibat batu empedu atau batu ginjal biasanya datang secara bergelombang. Artinya, rasa nyeri sering dimulai dan diakhiri mendadak dengan tingkat rasa sakit yang cukup parah. Bagaimana dengan sakit perut akibat batu ginjal? Selain penumpukan gas, sakit perut pun juga bisa menjadi pertanda dari penyakit ginjal, yaitu batu ginjal. Pasalnya, pada saat batu-batu tersebut mengalami pergerakan di dalam ginjal atau bergerak menuju saluran kemih, perut akan terasa sakit. Dibandingkan dengan sakit perut karena gas, kondisi akibat batu ginjal ini biasanya memunculkan jenis nyeri yang sedikit berbeda yaitu sakit pada bagian samping dan belakang perut, terutama di bawah tulang rusuk, nyeri menyebar dari bagian bawah perut hingga selangkangan, rasa sakit datang bergelombang, dan tingkat intensitas nyeri semakin meningkat. Bila Anda mengalami jenis sakit perut yang disebutkan di atas, sebaiknya periksakan diri ke dokter. Hal ini bertujuan agar kondisi yang dialami bisa didiagnosis dan dapat diatasi sesuai dengan penyebabnya. Sakit perut akibat usus buntu Bila sakit perut karena gas merupakan penyebab yang umum dan tidak terlalu serius, berbeda dengan nyeri perut akibat usus buntu. Radang usus buntu merupakan pembengkakan pada usus buntu apendiks yang terletak pada bagian usus besar. Kondisi tersebut merupakan masalah kesehatan darurat dan membutuhkan penanganan medis segera. Bila radang usus buntu dibiarkan, organ pencernaan ini bisa pecah dan menyebarkan infeksi pada bagian perut lainnya. Akibatnya, bagian lapisan perut ikut mengalami peradangan dan memicu rasa sakit yang biasanya terjadi di bagian bawah perut. Rasa sakit ini bisa semakin parah dan dimulai dari bagian atas perut, lalu lama-kelamaan berpindah ke bagian bawah kanan. Sakit perut akibat usus buntu biasanya juga disertai dengan gejala lainnya, seperti nafsu makan menurun, mual dan muntah, perut membuncit atau membengkak, rasa sakit menjalar hingga ke anus, demam, serta susah buang angin kentut. Kapan harus periksa ke dokter? Kebanyakan orang cenderung menganggap sakit perut yang dialami merupakan masalah sepele, sehingga memilih untuk membiarkannya saja. Faktanya, sakit perut sangat mungkin berubah menjadi kronis dan merupakan pertanda dari penyakit lainnya. Itu sebabnya, rasa sakit pada perut, entah itu karena gas maupun usus buntu, yang disertai dengan gejala lainnya, sebaiknya konsultasikan dengan dokter. Ada beberapa gejala yang perlu diwaspadai yang sering menyertai nyeri perut, seperti BAB berdarah, frekuensi BAB berubah, berat badan menurun, sembelit atau diare, mual atau muntah terus menerus atau berulang, sesak napas, atau nyeri pada dada. Bila memiliki pertanyaan lebih lanjut, silakan konsultasikan dengan dokter untuk memahami solusi yang tepat bagi Anda. Epidemiologi Penyakit Menular Kolera. Kolera atau biasanya disebut dengan penyakit tahunan Asiatic Cholera adalah suatu infeksi usus yang disebabkan oleh bakteri Vibrio Cholerae. Bakteri ini biasanya masuk kedalam tubuh melalui air minum atau makanan yang terkontaminasi oleh sanitasi atau dengan memakan ikan yang tidak dimasak dengan benar atau mentah. Bakteri ini juga sensitif terhadap asam lambung, maka penderita yang mengalami asam lambung cenderung menderita penyakit ini. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free MINI SKRIPSI KOLERA Dosen Pengampu Dr. dr. Wulan Pingkan Julia Kaunang Grad. Dip., DK. Disusun Oleh Kelompok 21 D Virginia Kusywoyo 211111010171 Yuliana Palempung 211111010174 PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SAM RATULANGI 2022 iii KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan berkat-Nya kami dapat menyelesaikan tugas akhir Mini Skripsi yang berjudul “Kolera Vibrio Chlorea” tepat pada waktunya. Pada kesempatan kali ini kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Epidemiologi Penyakit Menular oleh Dr. dr. Wulan Pingkan Julia Kaunang Grad., Dip., DK. Yang telah memberikan tugas ini kepada kami sehingga kami dapat mengkaji dan dapat memperoleh pengetahuan dari penulisan Mini Skripsi ini. Kami mengetahui bahwa tugas akhir Mini Skripsi masih jauh dari kata sempurna. Ole karena itu, kritik dan saran yang membangun dapat membantu kami menjadi lebih baik. Harapan kami kiranya Mini Skripsi ini dapat memberikan manfaat untuk kami dan juga orang-orang yang akan membacanya. Manado, 1 Desember 2022 Penulis iv DAFTAR ISI KATA PENGANTAR iii DAFTAR ISI iv BAB I DEFINISI PENYAKIT KOLERA 5 BAB II EPIDEMIOLOGI PENYAKIT KOLERA 6 BAB III ETIOLOGI PENYAKIT KOLERA 8 BAB IV KLASIFIKASI PENYAKIT KOLERA 10 BAB V PATOFISIOLOGI PENYAKIT KOLERA 12 BAB VI PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN 14 DAFTAR PUSTAKA 16 5 BAB I “DEFINISI KOLERA” Kolera atau biasanya disebut dengan penyakit tahunan Asiatic Cholera adalah suatu infeksi usus yang disebabkan oleh bakteri Vibrio Cholerae. Bakteri dari kolera tersebut menghasilkan racun yang bisa menyebabkan usus halus melepaskan sejumlah besar cairan yang mengandung garam dan mineral. Bakteri ini juga biasanya masuk kedalam tubuh melalui air minum atau makanan yang terkontaminasi oleh sanitasi atau dengan memakan ikan yang tidak dimasak dengan benar, terutama kerang. Bakteri ini juga sensitif terhadap asam lambung, maka penderita yang mengalami asam lambung cenderung menderita penyakit ini. Kolera dapat ditemukan di berbagai negara seperti Asia, Timur tengah, Afrika, dan Amerika Latin. Di daerah-daerah tersebut, wabah ini biasanya terjadi selama musim panas dan banyak menyerang anak-anak. Di negara lain, wabah ini bisa terjadi pada semua musim dan juga pada semua usia. Irianto, 2014 Menurut WHO, keadaan yang harus diduga jika terjadi penyebaran penyakit kolera yaitu 1. Daerah yang sebelumnya tidak terdeteksi adanya kolera lalu terdapat seorang penderita berusia 5 tahun atau lebih mengalami dehidrasi berat akibat diare akut. 2. Disuatu daerah yang pernah mengalami epidemi kolera, dimana ada seseorang yang berusia 5 tahun mengalami gangguan pencernaan seperti diare cair dengan atau tanpa muntah Ekawati, 2018. Agen penyebab dari penyakit ini awalnya dijelaskan pada tahun 1854 oleh Filippo Pacini, kemudian dilanjutkan oleh Robert Koch pada tahun 1884. Diperkirakan setiap tahun ada 1,3 – 4 juta kasus kolera yang terjadi, dan – kematian dari penyakit ini diseluruh dunia. 6 BAB II “EPIDEMIOLOGI PENYAKIT KOLERA” Pada tahun 1997 kolera ini dikenal sebagai 7 pandemi yang penyebarannya mencapai eropa. Vibrio yang bertanggung jawab terhadap terjadinya pandemi ke-7 adalah vibrio cholera 0I, biotipe El-Tor. Pandemi ke-7 dimulai pada tahun 1961 ketika vibrio pertama kali muncul hingga menyebabkan epidemi kolera di sulawesi, indonesia. Penyakit ini menyebar dengan cepat ke asia timur dan mencapai bangladesh pada tahun 1963, india pada tahun 1964, iran, iraq pada tahun 1965 – 1966. Pada tahun 1970 kolera menyebar di afrika barat, suatu wilayah yang belum pernah mengalami penyakit ini lebih dari 100 tahun. Penyakit ini menyebar dengan cepat ek beberapa negara dan menjadi endemik pada banyak benua. Pada tahun 1991, kolera menyerang amerika latin, dimana penyakit ini juga telah hilang selama satu abad. Dalam waktu setahun penyakit ini kembali menyebar ke 11 negara dan secara cepat menyebar lintas benua. Sampai tahun 1992, hanya serogrup vibrio cholerae OI yang menyebabkan endemi kolera. Serogrup lainnya dapat menyebabkan kasus – kasus diare yang sporadis, tapi tidak menyebabkan endemi. Pada akhir tahun 1992 ledakan kasus 7 kolera dimulai di india dan bangladesh yang disebabkan oleh serogrup OI39 atau bengal. Keadaan ini dikenal dengan pandemik ke-8. Isolasi dari vibrio ini telah dilaporkan dari 11 negara di asia tenggara. Namun masih belum jelas apakah vibrio cholerae OI39 akan menyebar kedaerah/wilayah lain, dan pengawasan epidemiologik yang cermat dari situasi ini sedang dilakukan. Menurut data epidemiologi global, kolera lebih sering ditemukan di negara berkembang. Insiden penyakit ini di negara industrial tela menurun karena adanya sistem sanitasi pengolahan air yang bersih. Angka kejadian kolera yang pasti juga sulit diketahui karena mayoritas insidennya terjadi di area terpencil di negara berkembang yang tidak memiliki sistem diagnosis dan pelaporan.  Global Berdasarkan data WHO, terdapat 1,2 juta kasus kolera pada tahun 2017 dengan angka fatalitas sebesar di seluruh dunia. Sekitar 84% kasus kolera global dan 41% kematian akibat kolera di seluruh dunia dilaporkan di Yemen. Jumlah kasus dalam laporan WHO ini masih belum menyeluruh karena masih banyak negara yang belum melaporkan kejadian kolera. Hal ini diduga terjadi karena kurangnya sistem surveilans dan adanya penutupan kasus kolera oleh negara tertentu untuk mencegah penurunan turisme dan industri ekspornya.  Indonesia Kejadian Luar Biasa KLB kolera yang pernah dilaporkan di Indonesia tercatat terjadi pada bulan April – Agustus 2008 di Kabupaten Paniai dan Kabupaten Nabire, Provinsi Papua. Kejadian ini memakan korban sampai 105 jiwa. Setelah itu, tidak didapatkan laporan terbaru mengenai jumlah kasus kolera di Indonesia hingga saat ini.  Mortalitas Sebelum adanya regimen penggantian cairan dan elektrolit yang baik, mortalitas kolera mencapai >50%. Namun, mortalitas tersebut dapat ditekan menjadi <1% bila ada pemberian terapi yang cepat. 8 BAB III “ETIOLOGI PENYAKIT KOLERA” Etiologi kolera adalah bakteri Vibrio cholerae yang menular pada manusia melalui rute fekal-oral. Bakteri ini menghasilkan enteroksin yang dapat memicu diare sekretorik akut profus. Infeksi Vibrio cholerae dikaitkan dengan sistem sanitasi yang buruk, dimana transimisi utama terjadi melalui air atau makanan yang terkontaminasi. Vibrio cholerae merupakan bakteri basil gram negatif yang bersifat aerobik atau anaerobik fakultatif. Bakteri ini memiliki bentuk seperti tanda koma, panjang 1 – 3 µm, dan diameter 0,5 – 0,8 µm. Struktur antigennya terdiri dari antigen flagel H dan somatik O. Dari sekitar 200 jenis Vibrio cholerae yang telah teridentifikasi, vibrio cholerae O139 merupakan jenis yang berkaitan dengan kejadian epidemi. Serogrup O1 kemudian diklasifikasikan berdasarkan serotipenya, yaitu Inaba, Ogawa, atau Hikojima. Selain itu, serogrup O1 juga dapat diklasifikasikan berdasarkan biotipenya, yaitu biotipe klasikal dan El Tor.  Faktor Resiko Faktor resiko kolera adalah komunitas yang memiliki sistem pengolahan air bersih yang buruk atau standar sanitasi personal maupun komunitas yang rendah. Secara umum, faktor resiko dapat ditelaah lebih lanjut sebagai faktor lingkungan dan faktor pejamu. a Faktor Lingkungan 9 Ekosistem utama Vibrio cholerae adalah perairan terutama laut, dimana bakteri ini hidup secara komensal dengan plankton krustasea yang berperan sebagai organisme pejamu normalnya. Risiko infeksi dapat meningkat karena peningkatan jumlah mikroba akibat perubahan cuaca, suhu air, salinitas air, konsentrasi nutrisi, dan jumlah alga. b Faktor Pejamu Kondisi malnutrisi meningkatkan resiko terinfeksi kolera. Selain itu, peran asam lambung dalam menghambat inokulasi V. Cholerae sebelum mencapai usus juga cukuo penting. Pasien yang mengalami perubahan asam lambung akibat infeksi H. Pylori, gastrektomi, penggunaan bloker histamin, atau penggunaan inhibitor pompa proton memiliki risiko terinfeksi kolera lebih tinggi. Individu dengan golongan darah O juga lebih rentan terinfeksi kolera tetapi mekanismenya belum diketahui dengan jelas. 10 BAB IV “KLASIFIKASI PENYAKIT KOLERA” Vibrio cholerae merupakan salah satu bakteri paling banyak yang terdapat pada permukaan air yang terkontaminasi limbah industri dan limbah rumah tangga. Bakteri ini bersifat gram negatif berbentuk basil batang bengkok, bersifat aerob dan motil, serta mempunyai satu flagel kutub. Menurut Khairie, 2013, yang menyebabkan penyakit kolera pada manusia adalah jenis serogrup 01 dan 0139. Bakteri mempunyai klasifikasi sebagai berikut  Kingdom Bacteria  Filum Proteobacteria  Ordo Vibrionales  Kelas Gamma proteobacteria  Family Vibrionaceae  Genus Vibrio  Spesies Vibrio cholerae Aditia, 2015 dikelompokkan menjadi dua tipe, yaitu serotype dan biotype. Pada tipe serotype, bakteri V. Cholerae memiliki kemmapuan mengaglutasi antisera polyvalent O. Antisera polyvalent O terbagi atas tiga tipe, yaitu 1 Serotype Ogawa AB 2 Serotype Inaba AC 3 Serotype Hikojima ABBC 11 Sementara untuk biotype, bakteri ini dibagi lagi berdasarkan sensitifnya terhadap bakteriofaga, yaitu 1 Biotype Klasikal 2 Biotype El-Tor Widyastana, 2015 Berdasarkan variasi antigen, genomic, dan toksisitasnya V. Cholerae dibagi lagi kedalam 30 strain Moat et al., 2002. V. Cholerae serogrup 01 dibagi atas biotype klasikal adalah penyebab penyakit kolera atau asiatik kolera. Biotype El-Tor ini juga menghasilkan hemolisin selain menghasilkan toksin, hemolisin yang dihasilkan juga merupakan suatu protein yang dapat menyebabkan helisis darah sehingga pasien penderita diare mengalami diare yang berdarah Widyastana, 2015. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri V. Cholerae grup non 01 ini dianggap tidak begitu berbahaya karena bakteri V. Cholerae grup non 01 ini hanya menyebabkan diare yang ringan pada penderita Widyastana, 2015. Namun, pada tahun 1991 dunia dikejutkan dengan adanya wabah kolera di Bangladesh dan India yang disebabkan oleh bakteri V. Cholerae grup non 01 yang memproduksi toksin seperti grup 01. 12 BAB V “PATOFISIOLOGI PENYAKIT KOLERA” Gejala dimulai dari 1-3 hari setelah terinfeksi bakteri, mulai dari diare ringan tanpa komplikasi sampai pada diare berat yang bisa berakibat fatal. Ada beberapa orang yang tidak menunjukkan gejala saat terinfeksi. Kolera biasanya dimulai diare terasa encer seperti air yang terjadi secara tiba – tiba, tanpa adanya rasa sakit dan muntah – muntah. Namun, pada kasus yang berat dalam 1 jam seseorang dapat kehilangan 1 liter cairan hanya dkarenakan diare. Pada orang yang fesesnya ditemukan adanya bakteri kolera mungkin dalam 1-2 minggu belum merasakan keluhan, namun saat terjadi serangan infeksi maka bisa terjadi diare dan muntah dengan kondisi yang cukup serius sebagai serangan akut untuk menyamarkan jenis diare yang dialami. Akan tetapi pada penderita yang mengalami kolera ada beberapa tanda dan gejala yang dapat diketahui, yaitu 1. Diare yang encer seperti air dan berlimpah tanpa rasa mulas. 2. Kotoran tinja atau feses yang semula berbau dan berwarna berubah menjadi cairan putih keruh tanpa bau amis atau busuk, melainkan seperti manis yang menusuk. 3. Feses cairan yang memiliki tampilan seperti air cucian beras bila di endapkan akan mengeluarkan gumpalan-gumpalan yang berwarna putih. 13 4. Diare terjadi sampai berkali-kali dan dalam jumlah yang banyak dalam satu waktu. 5. Muntah setelah didahului diare yang terjadi, namun pada penderita tidak merasakan mual sebelumnya. 6. Terjadinya kejang di area perut bisa juga dirasakan dengan disertai nyeri yang sangat hebat. 7. Banyaknya cairan yang keluar dapat membuat dehidrasi dengan tanda-tandanya seperti detak jantung yang terasa cepat, mulut terasa kering, fisik lemah, mata cekung, dan lain-lain bila tidak segera dilakukan penanganan sebagai pengganti cairan dalam tubuh yang hilang maka dapat mengakibatkan kematian. Gejala kolera pada anak-anak lebih berat dibandingkan dengan orang dewasa. Anak-anak yang terserang kolera rentan terkena hipoglikemia gula darah rendah, yang bisa menyebabkan kejang dan kesadaran mengalami penurunan. 14 BAB VI “PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN” A. Pencegahan Penyakit Kolera Cara pencegahan dan untuk memutuskan tali penularan penyakit adalah dengan melakukan sanitasi lingkungan, terutama kebersihan air dan pembuangan kotoran feses pada tempat yang memenuhi standar lingkungan. Setelah sanitasi lingkungan, selanjutnya ada meminum air yang sudah dimasak terlebih dahulu, cuci tangan dengan bersih sebelum makan memakai sabun/antiseptik, cuci sayuran yang dimakan mentah seperti lalapan, hindari makanan seperti ikan dan kerang yang masih setengah matang. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memutus mata rantai penularan penyakit tersebut, yaitu  Tidak membeli makanan yang kebersihannya tidak terjamin  Gunakan air yang sudah terjamin kualitasnya untuk memasak  Tidak mengkonsumsi susu segar yang belum diolah  Minum yang telah dimasak hingga mendidih atau minum air mineral dalam kemasan  Mencuci bersih buah dan sayur sebelum dimakan Imunisasi dengan vaksin komersil standar yaitu vaksin cholera sec yang mengandung 10 milyar vibrio mati per mL, memberikan proteksi 60-80% untuk masa 3 – 6 bulan. Vaksin tidak berpengaruh pada karier dalam pencegahan 15 penularan sehingga vaksinasi kolera tidak lagi menjadi persyaratan sertifikat kesehatan internasional. Imunisasi dengan toksoid pada manusia tidak memberikan perlindungan yang berarti dalam mencegah kolera. B. Pengobatan Penyakit Kolera Penanganan utama untuk penderita kolera adalah dengan mencegah dehidrasi. Penderita yang mengalami penyakit kolera harus segera mendapatkan penanganan segera, yaitu dengan memberikan pengganti cairan tubuh yang hilang sebagai langkah awal. Pemberian cairan dengan cara Infus/Drip adalah yang paling tepat bagi penderita yang banyak kehilangan cairan baik melalui diare atau muntah. Selanjutnya adalah pengobatan terhadap infeksi yang terjadi, yaitu dengan pemberian antibiotik/antimikroblal seperti Tetrasiklin, Doxycycline atau golongan Vibramicyn. Pengobatan antibiotik ini dalam waktu 48 jam dapat menghentikan diare yang terjadi. Pada kondisi tertentu, terutama diwilayah yang terserang penyakit kolera pemberian makanan/cairan dilakukan dengan cara memasukkan selang dari hidung ke lambung sonde. Sebanyak 50% kasus kolera yang tergolong berat tidak dapat diatasi meninggal dunia, sedangkan jumlah 1% penderita kolera yang mendapat penanganan kurang adekuat meninggal dunia. 16 DAFTAR PUSTAKA Connor, B., et al. 2019. Cholera in Travellers A Systematic Review. Journal of Travel Medicine. 26 8, pp. 1 – 8. Dr. Pittara. 2022. Kolera. Online [diakses 1 Desember 2022 Davies HG, Browman C, Luby SP. 2017. Cholerae – Management and Prevention. Journal of Infection. 74 1 66 – 73. Handa S. 2018. Cholera Medscape. Online [diakses 1 Desember 2022] Irianto, Koes. 2013. Epidemiologi Penyakit Menular & Tidak Menular Panduan Klinis. Bandung. Penerbit Alfabeta Bandung Mood BS, Metanat M. Diagnosis, Clinical Management and Prevention, and Control of Cholera A Review Study. International Journal of Infection. 1 1 e18303. Medkes, 2014. Gejala, Penyebab, dan Pengobatan Kolera. Online [diakses 1 Desember 2022]. R Fauziah, 2015. Epidemiologi Penyakit Menular-Kolera. Online [diakses 1 Dessember 2022] ResearchGate has not been able to resolve any citations for this to cholera is a risk for individuals and groups traveling to endemic areas, and the bacteria can be imported to cholera-free countries by returning travellers. This systematic review of the literature describes the circumstances in which cholera infection can occur in travellers and considers the possible value of the cholera vaccine for prevention in travellers. PubMed and EMBASE were searched for case reports of cholera or diarrhoea among travellers, with date limits of 1 Jan 1990 to 30 April 2018. Search results were screened to exclude the following articles diarrhoea not caused by cholera, cholera in animals, intentional cholera infection in humans, non-English articles, and publications on epidemics that did not report clinical details of individual cases and publications of cases pre-dating 1990. Articles were reviewed through descriptive analytic methods and information summarized. We identified 156 cases of cholera imported as a consequence of travel, and these were reviewed for type of traveller, source country, serogroup of cholera, treatment and outcomes. The case reports retrieved in the search did not report consistent levels of detail, making it difficult to synthesize data across reports and draw firm conclusions from the data. This clinical review sheds light on the paucity of actionable published data regarding the risk of cholera in travellers and identifies a number of gaps that should drive additional effort. Further information is needed to better inform evidence-based disease prevention strategies, including vaccination for travellers visiting areas of cholera-risk. Modifications to current vaccination recommendations to include or exclude current or additional traveller populations may be considered as additional risk data become available. The protocol for this systematic review is registered with PROSPERO registration number 122797.Cholerae -Management and PreventionH G DaviesC BrowmanS P LubyDavies HG, Browman C, Luby SP. 2017. Cholerae -Management and Prevention. Journal of Infection. 74 1 66 Penyakit Menular & Tidak Menular Panduan Klinis. Bandung. Penerbit Alfabeta Bandung Mood BS, Metanat M. Diagnosis, Clinical Management and Prevention, and Control of Cholera A Review StudyKoes IriantoIrianto, Koes. 2013. Epidemiologi Penyakit Menular & Tidak Menular Panduan Klinis. Bandung. Penerbit Alfabeta Bandung Mood BS, Metanat M. Diagnosis, Clinical Management and Prevention, and Control of Cholera A Review Study. International Journal of Infection. 1 1 Penyakit Menular-KoleraR FauziahR Fauziah, 2015. Epidemiologi Penyakit Menular-Kolera. Online [diakses 1 Dessember 2022]

penyakit perut seperti kolera