Abbadmengulang-ulang seruannya sehingga sekitar empat ratus prajurit berkumpul di sekelilingnya. Di antara mereka terdapat perwira seperti Tsabit bin Qais, Al Barra bin Malik, dan Abu Dujanah, pemegang pedang Rasulullah SAW. Abbad dan pasukannya menyerbu memecah pasukan musuh dan menyebar maut dengan pedangnya.
Abdullahbin Umar bin al-Khattab (bahasa Arab: عبد الله بن عمربن الخطاب ‎) (sekitar 610-693 M) adalah seorang Sahabat Nabi dan merupakan periwayat hadis yang terkenal. Ia adalah anak dari Khalifah kedua, Umar bin Khattab.Ia tidak berbaiat kepada Ali bin Abi Thalib dan tetap netral selama Perang Saudara Islam I (656-661).. Biografi
TerusAbu Dujanah ini jelasin kalau pohon kurma itu milik seorang laki-laki munafik." Aku akan membelinya dengan sepuluh kali lipat dari pohon kurma itu sendiri. Pohonnya terbuat dari batu zamrud berwarna biru. Disirami dengan emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Dari kisah Abu Dujanah ini, kita bisa belajar bahwa kita, sebagai
Allahlahyang mengetahui, kerana sesungguhnya bangunan itu tiiba-tiba bergoncang seperti pohon kurma yang ditiup angin kuat. Lalu raja mengirimkan utusannya kepada kami untuk menyampaikan, 'Anda tidak perlu menyapampaikan agama anda kepada kami.' Dan raja mengirimkan lagi utusannya untuk menjemput kami masuk.
AbuDujanah lantas menceritakan, pernah suatu ketika anaknya kedapatan memakan kurma yang jatuh dari pohon tetangganya itu. Maka, ia pun berupaya sekuat tenaga untuk mengeluarkan kurma yang terlanjur dimakan tadi dari mulut anaknya. "Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak."
2 Peristiwa pembakaran pohon-pohon kurma dan kebun Bani Nadhîr yang di lakukan Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam , menunjukkan bahwa keputusan seperti ini diserahkan kepada imam atau pemimpin, apabila dilihat hal tersebut bisa melemahkan musuh. 3. Mengahargai dan menjaga perjanjian yang sudah di sepakati bahkan dengan musuh
. Dalam kitab I’anatuth-Thalibin Bab Luqatah karya Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyati, diceritakan sebuah kisah sahabat yang membuat Rasullullah SAW menitiskan air adalah Abu Dujanah RA, sahabat Nabi dari kabilah Khazraj. Beliau syahid dalam perang Yamamah ketika memerangi nabi palsu, Musailamah dikenal pemberani di medan perang, Abu Dujanah juga seorang yang sangat menjaga diri dan keluarganya dari perkara hari setelah selesai solat Subuh berjemaah bersama Rasullullah SAW, Abu Dujanah dilihat terburu-buru pulang tanpa mengikuti doa selepas solat yang dipanjatkan gelagat ini, Rasulullah meminta penjelasan daripada Abu Dujanah. “Mengapa setiap hari kamu tergesa-gesa pulang dari solat Subuh engkau tidak memiliki permintaan kepada Allah sehingga tidak pernah menungguku selesai berdoa. Ada apa?” tanya Baginda Nabi Dujanah menjawab, “Begini Ya Rasullullah,” kata Abu Dujanah memulai ceritanya. “Rumah kami bersebelahan dengan rumah seorang atas pekarangan rumah milik jiran kami ini, terdapat sepohon kurma yang tinggi menjulang, dahannya menjuntai ke rumah kali angin bertiup di malam hari, kurma-kurma jiranku itu selalu terjatuh, mendarat di rumah Rasullullah, kami sekeluarga sering kelaparan, kurang anak-anak kami bangun, apa pun yang mereka dapati, mereka kerana itu, setelah selesai solat, kami bergegas pulang sebelum anak-anak kami terbangun dari kumpulkan kurma-kurma milik jiran kami yang berciciran di rumah, lalu kami kembalikan kepada pemiliknya.”“Suatu ketika, kami agak terlambat anakku yang sudah terlanjur memakan kurma yang kepala saya sendiri menyaksikan, tampak ia sedang mengunyah kurma basah di dalam telah memungut kurma yang telah jatuh di rumah kami itu, lalu jari-jari tangan kami masukkan ke mulut anakku keluarkan apa pun yang ada di katakan, “Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak.”Anakku menangis, kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air kerana sangat Rasullullah, kami katakan kembali kepada anakku itu,“Hingga nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu.""Seluruh isi perut yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak.”Mendengar itu, mata Rasulullah berkaca-kaca, butiran air mata mulianya berderai begitu cuba mencari tahu siapa sebenarnya pemilik pohon kurma yang dimaksudkan Abu Dujanah Dujanah pun mengatakan bahawa pohon kurma itu milik seorang lelaki berfikir panjang, Baginda mengundang pemilik pohon lalu mengatakan, “Bolehkah aku meminta kamu menjual pohon kurma yang kamu miliki itu?Aku akan membelinya dengan sepuluh kali ganda dari pohon kurma itu dibuat daripada batu zamrud berwarna biru, disirami dengan emas merah, tangkainya dari mutiara situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada,” kata Rasullullah munafik ini lantas menjawab dengan tegas, “Saya tidak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh nilai.""Saya tidak mahu menjual apa pun kecuali dengan wang tunai dan tidak pakai janji bila-bila."Tiba-tiba sahabat setia Baginda, Abu Bakar As-Siddiq RA berkata, “Baiklah kalau begitu, aku beli dengan sepuluh kali ganda dari tumbuhan kurma milik kamu salah satu yang jenisnya tidak ada di kota ini lebih bagus jenisnya."Si munafik pun kegirangan sambil berkata “Baiklah, aku jual.”Abu Bakar menyahut, “Bagus, aku beli.”Setelah sepakat, Abu Bakar terus menyerahkan pohon kurma itu kepada Abu kemudian bersabda, “Wahai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu.”Mendengar sabda Baginda itu, Abu Bakar sangat juga Abu Dujanah. Si munafik berjalan mendatangi isterinya lalu menceritakan kisah yang baru saja ia alami.“Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku mendapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus.""Padahal kurma yang aku jual itu masih tetap berada di pekarangan rumahku. Aku tetap yang akan memakannya terlebih dahulu dan buah-buahnya tidak sedikit pun akan ku berikan kepada jiranku.”Malamnya, ketika si munafik tidur, dan bangun di pagi harinya, tiba-tiba pohon kurma yang ia miliki berpindah posisi, menjadi berdiri di atas tanah milik Abu tak pernah sekalipun tampak pohon itu tumbuh di atas tanah si asal pohon itu tumbuh, rata dengan tanah. Ia kehairanan tiada kisah sahabat dan pohon kurma yang membuat Rasullullah SAW yang dapat dipetik dari kisah ini adalah berhati-hatinya para sahabat menjaga diri dan keluarganya dari memakan makanan yang apa pun hidup, seberat apa pun hidup, seseorang tidak boleh memberikan makanan untuk dirinya sendiri dan keluarganya dari hasil yang kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT sepuluh kali ganda sebagaimana janji Baginda tuaian daripada janji itu bukan sekarang, namun di akhirat kelak kerana dunia ini adalah tempat bercucuk tanam, bukan tempat pohon kurma yang berpindah posisi itu adalah salah satu mukjizat Baginda Nabi SAW yang diberi manfaat kepada sahabat Nabi, Abu Dujanah RA. RujukanTinta Mahabbah Anaknya Dibiarkan Lapar! Inilah Sahabat Yang Membuat Rasulullah Menangis
Inilah kisah sahabat yang membuat Rasulullah SAW meneteskan air mata. Foto Ilustrasi/Dok pesantrenvirtualDalam kitab I'anatuth-Thalibin Bab Luqatah karya Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyati wafat 1302 H diceritakan sebuah kisah sahabat yang membuat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam SAW meneteskan air Dujanah radhiallahu 'anhu RA, sahabat Nabi dari kabilah Khazraj wafat 632. Beliau syahid dalam perang Yamamah ketika memerangi nabi palsu Musailamah dikenal pemberani di medan perang, Abu Dujanah juga seorang yang sangat menjaga diri dan keluarganya dari perkara haram. Suatu hari, usai salat shubuh berjamaah bersama Rasulullah SAW , Abu Dujanah selalu terburu-buru pulang tanpa mengikuti doa ba'da salat yang dipanjatkan gelagat ini, Rasulullah mencoba meminta klarifikasi pada Abu Dujanah. "Mengapa setiap kali kamu terburu-buru pulang dari jamaah shubuh. Apakah engkau tidak memiliki permintaan kepada Allah sehingga tidak pernah menungguku selesai berdoa. Ada apa?" tanya Dujanah menjawab, "Begini Rasulullah," kata Abu Dujanah memulai ceritanya."Rumah kami berdampingan persis dengan rumah seorang laki-laki. Di atas pekarangan rumah milik tetangga kami ini, terdapat satu pohon kurma menjulang, dahannya menjuntai ke rumah kami. Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetanggaku itu saling berjatuhan, mendarat di rumah kami.”"Ya Rasul, kami keluarga orang yang tak berpunya. Anakku sering kelaparan, kurang makan. Saat anak-anak kami bangun, apa pun yang didapat, mereka makan. Oleh karena itu, setelah selesai salat, kami bergegas segera pulang sebelum anak-anak kami terbangun dari tidurnya. Kami kumpulkan kurma-kurma milik tetangga kami yang berceceran di rumah, lalu kami kembalikan kepada pemiliknya.""Satu saat, kami agak terlambat pulang. Ada anakku yang sudah terlanjur makan kurma hasil temuan. Mata kepala saya sendiri menyaksikan, tampak ia sedang mengunyah kurma basah di dalam mulutnya. Ia habis memungut kurma yang telah jatuh di rumah kami semalam."Mengetahui itu, lalu jari-jari tangan kami masukkan ke mulut anakku itu. Kami keluarkan apa pun yang ada di sana. Kami katakan, 'Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak.' Anakku menangis, kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air karena sangat Rasululah, kami katakan kembali kepada anakku itu, Hingga nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu. Seluruh isi perut yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak."Mendenar itu, mata Rasulullah SAW berkaca-kaca, butiran air mata mulianya berderai begitu deras. Baginda Rasulullah mencoba mencari tahu siapa sebenarnya pemilik pohon kurma yang dimaksud Abu Dujanah itu. Abu Dujanah pun mengatakan bahwa pohon kurma itu milik seorang laki-laki basa-basi, Baginda Nabi mengundang pemilik pohon kurma. Rasul lalu mengatakan, "Bisakah tidak jika aku minta kamu menjual pohon kurma yang kamu miliki itu? Aku akan membelinya dengan sepuluh kali lipat dari pohon kurma itu sendiri. Pohonnya terbuat dari batu zamrud berwarna biru. Disirami dengan emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada." kata Rasulullah munafik ini lantas menjawab dengan tegas, "Saya tak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo. Saya tidak mau menjual apa pun kecuali dengan uang kontan dan tidak pakai janji kapan-kapan."Tiba-tiba sahabat setia Abu Bakar as-Shiddiq RA datang. Lantas berkata, "Ya sudah, aku beli dengan sepuluh kali lipat dari tumbuhan kurma milik Pak Fulan yang varietasnya tidak ada di kota ini lebih bagus jenisnya."Si munafik pun kegirangan sembari berujar "Ya sudah, aku jual."Abu Bakar menyahut, "Bagus, aku beli." Setelah sepakat, Abu Bakar langsung menyerahkan pohon kurma itu kepada Abu SAW kemudian bersabda, "Hai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu."Mendengar sabda Nabi itu, Abu Bakar bergembira bukan main. Begitu pula Abu Dujanah. Sedangkan si munafik berjalan mendatangi istrinya. Lalu mengisahkan kisah yang baru saja ia alami."Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku dapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus. Padahal kurma yang aku jual itu masih tetap berada di pekarangan rumahku. Aku tetap yang akan memakannya lebih dahulu dan buah-buahnya pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu sedikit pun."Malamnya, saat si munafik tidur, dan bangun di pagi harinya, tiba-tiba pohon kurma yang ia miliki berpindah posisi, menjadi berdiri di atas tanah milik Abu Dujanah. Dan seolah-olah tak pernah sekalipun tampak pohon itu tumbuh di atas tanah si munafik. Tempat asal pohon itu tumbuh, rata dengan tanah. Ia keheranan tiada kisah sahabat dan pohon kurma yang membuat Rasulullah SAW menangis. Hikmah yang kita petik dari kisah ini adalah kehati-hatian para sahabat menjaga diri dan keluarganya dari makanan yang haram. Kemudian pohon kurma yang berpindah posisi itu adalah salah satu mukjizat Nabi SAW yang langsung dirasakan oleh sahabat Abu Dujanah.rhs
Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, terdapat seorang sahabat bernama Abu Dujanah. Setiap usai menjalankan ibadah shalat berjamaah shubuh bersama Baginda Nabi, Abu Dujanah selalu tidak sabar. Ia terburu-buru pulang tanpa menunggu pembacaan doa yang dipanjatkan Rasulullah selesai. Ada satu kesempatan, Rasulullah mencoba meminta klarifikasi pada pria tersebut. “Hai, apakah kamu ini tidak punya permintaan yang perlu kamu sampaikan pada Allah sehingga kamu tidak pernah menungguku selesai berdoa. Kenapa kamu buru-buru pulang begitu? Ada apa?” tanya Nabi. Abu Dujanah menjawab, “Anu Rasulullah, kami punya satu alasan.” “Apa alasanmu? Coba kamu utarakan!” perintah Baginda Nabi. “Begini,” kata Abu Dujanah memulai menguraikan jawabannya. “Rumah kami berdampingan persis dengan rumah seorang laki-laki. Nah, di atas pekarangan rumah milik tetangga kami ini, terdapat satu pohon kurma menjulang, dahannya menjuntai ke rumah kami. Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetanggaku tersebut saling berjatuhan, mendarat di rumah kami.” BACA JUGA Rasul Tahu Aisyah Sedang Marah “Ya Rasul, kami keluarga orang yang tak berpunya. Anakku sering kelaparan, kurang makan. Saat anak-anak kami bangun, apa pun yang didapat, mereka makan. Oleh karena itu, setelah selesai shalat, kami bergegas segera pulang sebelum anak-anak kami tersebut terbangun dari tidurnya. Kami kumpulkan kurma-kurma milik tetangga kami tersebut yang berceceran di rumah, lalu kami haturkan kepada pemiliknya.” “Satu saat, kami agak terlambat pulang. Ada anakku yang sudah terlanjur makan kurma hasil temuan. Mata kepala saya sendiri menyaksikan, tampak ia sedang mengunyah kurma basah di dalam mulutnya. Ia habis memungut kurma yang telah jatuh di rumah kami semalam.” “Mengetahui itu, lalu jari-jari tangan kami masukkan ke mulut anakku itu. Kami keluarkan apa pun yang ada di sana. Kami katakan, Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak.’ Anakku menangis, kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air karena sangat kelaparan.” “Wahai Baginda Nabi, kami katakan kembali kepada anakku itu, Hingga nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu. Seluruh isi perut yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak’.” Pandangan mata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sontak berkaca-kaca, lalu butiran air mata mulianya berderai begitu deras. BACA JUGA Sunnah Rasul; Adab Memotong Kuku Baginda Rasulullah Muhammad shallahu alaihi wa sallam mencoba mencari tahu siapa sebenarnya pemilik pohon kurma yang dimaksud Abu Dujanah dalam kisah yang ia sampaikan di atas. Abu Dujanah pun kemudian menjelaskan, pohon kurma tersebut adalah milik seorang laki-laki munafik. Tanpa basa-basi, Baginda Nabi mengundang pemilik pohon kurma. Rasul lalu mengatakan, “Bisakah tidak jika aku minta kamu menjual pohon kurma yang kamu miliki itu? Aku akan membelinya dengan sepuluh kali lipat dari pohon kurma itu sendiri. Pohonnya terbuat dari batu zamrud berwarna biru. Disirami dengan emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada.” Begitu tawar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Pria yang dikenal sebagai orang munafik ini lantas menjawab dengan tegas, “Saya tak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo. Saya tidak mau menjual apa pun kecuali dengan uang kontan dan tidak pakai janji kapan-kapan.” Tiba-tiba Abu Bakar as-Shiddiq radliyallahu anh datang. Lantas berkata, “Ya sudah, aku beli dengan sepuluh kali lipat dari tumbuhan kurma milik Pak Fulan yang varietasnya tidak ada di kota ini lebih bagus jenisnya.” Si munafik berkata kegirangan, “Oke, ya sudah, aku jual.” Abu Bakar menyahut, “Bagus, aku beli.” Setelah sepakat, Abu Bakar menyerahkan pohon kurma kepada Abu Dujanah seketika. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kemudian bersabda, “Hai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu.” Mendengar sabda Nabi ini, Abu Bakar bergembira bukan main. Begitu pula Abu Dujanah. Sedangkan si munafik berlalu. Ia berjalan mendatangi istrinya. Lalu mengisahkan kisah yang baru saja terjadi. “Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku dapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus. Padahal kurma yang aku jual itu masih tetap berada di pekarangan rumahku. Aku tetap yang akan memakannya lebih dahulu dan buah-buahnya pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu sedikit pun.” Malamnya, saat si munafik tidur, dan bangun di pagi harinya, tiba-tiba pohon kurma yang ia miliki berpindah posisi, menjadi berdiri di atas tanah milik Abu Dujanah. Dan seolah-olah tak pernah sekalipun tampak pohon tersebut tumbuh di atas tanah si munafik. Tempat asal pohon itu tumbuh, rata dengan tanah. Ia keheranan tiada tara. Dalam kisah ini, dapat kita ambil pelajaran, betapa hati-hatinya sahabat Rasulullah tersebut dalam menjaga diri dan keluarganya dari makanan harta haram. Sesulit apa pun hidup, seberat apa pun hidup, seseorang tidak boleh memberikan makanan untuk dirinya sendiri dan keluarganya dari barang haram. Setiap kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah subhânahu wa ta’âla sepuluh kali lipat sebagaimana janji Baginda Nabi Muhammad. Adapun panen dari pada janji itu bukankan kontan sekarang, namun di akhirat kelak. Karena dunia ini adalah dâruz zari tempat bercocok tanam, bukan dârul hashâd tempat memanen. Kisah di atas disarikan dari kitab I’anatuth Thâlibîn Beirut, Lebanon, cet I, 1997, juz 3, halaman 293 karya Abu Bakar bin Muhammad Syathâ ad Dimyatîy w. 1302 H. SUMBER NU ONLINE
Halaman utamaAnimeTrendingKategoriLIVEMasuk untuk lihat konten yang Anda ikutiKisah Abu Dujanah dan Pohon Kurma Kisah TeladanDilarang memposting ulang tanpa izin dari untukmuSemuaAnime402251259304431323605341406425311305318338432332338258339Komentar 20TerbaikTerbaruKeren banget menambah wawasan kak animasinya bagus bangetTerjemahkanAnimasinya keren plus nambah pengetahuan, mantap kakTerjemahkanKeren bet kak, mangattt terussss TerjemahkanDisukai oleh creatorKeep spirit Guys❓Lets Smile For This Day🤓TerjemahkanCuma mampir TerjemahkanMasyaAllah, aku baru tahu ada cerita pohon kurma yg berpindahTerjemahkanSemangat Upload Nya Pleas Back Like Komen BrooTerjemahkanMenambah wawasan tiap malem TerjemahkanWahh kerenn kakTerjemahkanwoah mangstap kakTerjemahkanKerenTerjemahkanTidak ada lagi komentar
BEGITU banyak jalan dari Allah SWT untuk hambanya yang selalu mematuhi perintah agamanya. Salah satu perintahnya adalah tidak mengambil apapun yang bukan miliknya, karena itu haram hukumnya. Salah satu contohnya adalah mengembalikan barang yang bukan milik islam banyak dosa yang akan dia dapat ketika memakan harta haram yang bukan miliknya. Untuk itu sangat penting untuk menjaga diri dan keluarga agar tidak makan dari yang tidak halal. Berikut adalah kisah tentang sahabat nabi Muhammad SAW yang sangat menjaga dirinya dan keluarganya dari barang haram yang bukan miliknya. Dikutip dari berbagai sumber, Selasa 17/06/2019.Pada zaman Nabi Muhammad, terdapat seorang bernama Abu Dujanah dan dia adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW. Abu Dujanah adalah orang yang sangat taat kepada agama dan Nabinya Muhammad SAW. Dia selalu menjalankan ibadah yang dianjurkan oleh agamanya yaitu islam. Setiap usai menjalankan ibadah salat berjamaah shubuh bersama Nabi, Abu Dujanah selalu terburu-buru pulang tanpa menunggu pembacaan doa oleh Nabi Muhammad ketika selesai salat. Suatu Ketika, Nabi mencoba meminta klarifikasi pada Abu Dujanah ketika bertemu dengannya.“Hai, apakah kamu ini tidak punya permintaan yang perlu kamu sampaikan pada Allah sehingga kamu tidak pernah menungguku selesai berdoa. Kenapa kamu buru-buru pulang begitu? Ada apa?” tanya Nabi Muhammad kepada Abu Dujanah pun menjawab, “Anu Rasulullah, saya punya satu alasan.“Apa alasanmu? Coba kamu utarakan!” Lanjut Nabi Muhammad SAW.“Begini,” kata Abu Dujanah sambil memulai menceritakan alasannya. “Rumah kami berdampingan persis dengan rumah seorang laki-laki. Nah, di atas pekarangan rumah milik tetangga kami ini, terdapat satu pohon kurma menjulang, dahannya menjuntai ke rumah kami. Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetanggaku tersebut saling berjatuhan, mendarat di rumah kami.”“Ya Rasul, kami keluarga orang yang tak berpunya. Anak-anakku sering kelaparan, kurang makan. Saya takut saat anak-anak kami bangun, apa pun yang didapat, mereka makan. Oleh karena itu, setelah selesai shalat, Saya bergegas segera pulang sebelum anak-anak terbangun dari tidurnya dan memakannya. Kami kumpulkan kurma-kurma milik tetangga kami tersebut yang berceceran di rumah, lalu kami kembalikan kepada saat, kami pernah agak terlambat pulang. saya menemukan anakku yang sudah terlanjur makan kurma hasil temuannya. Mata kepala saya sendiri menyaksikan, tampak ia sedang mengunyah kurma basah di dalam mulutnya yang ia pungut di bawah tanah tepat di rumah kami.”Mengetahui itu, Abu Dujanah pun memasukan jari-jari tangannya ke mulut anaknya itu. dia keluarkan apa pun yang ada di mulut anaknya. Abu Dujanah mengatakan pada anaknya, "Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak." Anakku lalu menangis, kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air karena sangat katakan kembali kepada anaknya itu, Hingga nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu. Seluruh isi perut yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak.”Pandangan mata Nabi Muhammad pun sontak berkaca-kaca, lalu butiran air mata mulianya mulai berderai begitu Muhammad SAW pun kemudian mencoba mencari tahu siapa sebenarnya pemilik pohon kurma yang dimaksud Abu Dujanah dalam cerita yang ia sampaikan nabi Muhammad SAW pun kemudian menjelaskan, pohon kurma tersebut adalah milik seorang laki-laki basa-basi, Nabi memanggil pemilik pohon kurma tersebut untuk bertemunya. Setelah bertemu dengan pemilik pohon Nabi Muhammad lalu mengatakan, “Bisakah jika aku minta kamu menjual pohon kurma yang kamu miliki itu?Aku akan membelinya dengan sepuluh kali lipat dari pohon kurma itu sendiri. Pohonnya terbuat dari batu zamrud berwarna biru. Disirami dengan emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada.” Begitu tawar Nabi Muhammad yang dikenal sebagai orang munafik ini lantas menjawab dengan tegas, “Saya tak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo. Saya tidak mau menjual apa pun kecuali dengan uang kontan dan tidak pakai janji kapan-kapan.”Lalu tiba-tiba Abu Bakar As-Shiddiq RA datang. Lantas berkata, “Ya sudah, aku beli dengan sepuluh kali lipat dari tumbuhan kurma milik Pak Fulan yang varietasnya tidak ada di kota ini lebih bagus jenisnya.”Si munafik berkata kegirangan, “Oke, ya sudah, aku jual.”Abu Bakar menyahut, “Bagus, aku beli.” Setelah sepakat, Abu Bakar menyerahkan pohon kurma yang sudah dibelinya dari laki-laki munafik itu kepada Abu Muhammad kemudian bersabda, “Hai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu.”Mendengar sabda Nabi ini, Abu Bakar bergembira bukan main. Begitu pula Abu Pohon kurmanya di beli oleh Abu Bakar, Si laki-laki munafik inipun pulang dan berjalan mendatangi istrinya. Lalu mengisahkan kisah yang baru saja terjadi.“Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku dapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus. Padahal kurma yang aku jual itu masih tetap berada di pekarangan rumahku. Aku tetap yang akan memakannya lebih dahulu dan buah-buahnya pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu Abu Dujanah sedikit pun.”Malamnya, saat si munafik tidur, dan bangun di pagi harinya, tiba-tiba pohon kurma yang ia miliki berpindah posisi, menjadi berdiri di atas tanah milik Abu Dujanah. Dan seolah-olah tak pernah sekalipun tampak pohon tersebut tumbuh di atas tanah si munafik. Tempat asal pohon itu tumbuh, rata dengan tanah. Si munafik itupun keheranan. Kisah ini dari kitab I’anatuth Thâlibîn Beirut, Lebanon, cet I, 1997, juz 3, halaman 293 karya Abu Bakar bin Muhammad Syathâ ad Dimyatîy w. 1302 H.Dari Kisah Ini dapat kita ambil pelajaran bahwa betapa hati-hatinya sahabat Rasulullah tersebut dalam menjaga diri dan keluarganya dari makanan haram yang bukan miliknya. Sesusah apapun hidup jagalah diri dan keluarga dari hal-hal yang tidak disukai oleh Allah SWT. Setiap kebaikan akan dilipat gandakan pahalanya oleh Allah SWT sepuluh kali lipat sebagaimana janji Baginda Nabi Muhammad. Jika semua tidak di dapatkan sekarang maka akan di dapatkan di Akhirat kelak.
kisah abu dujanah dan pohon kurma